Plot Twist


Ku buka pintu rumah dengan perlahan agar tak membangunkan orang rumah. Ini kali pertama aku pulang larut malam. Pukul 01.00 WIB “hah pasti bunda marah banget nih” ucapku sambil menghela nafas panjang. Aku strict parents, didikan dari almarhum ayahku mengajarkan perempuan tidak boleh keluar malam. Ketika aku izin keluar malam, jam 21.00 WIB pasti sudah di telpon untuk pulang.

Tapi tak ku hiraukan kekhawatiran itu karena mataku sudah 5 watt. Aku butuh tidur karena selama sebulan ini aku ngebut mengerjakan tugas kuliah. Tidak ada waktu istirahat yang cukup untukku. Bahkan malam ini aku juga sehabis mengerjakan tugas kuliah di café. Aku memang selalu mengerjakan tugas di café, perpustakaan, taman, atau tempat apapun yang dapat menaikan mood serta daya kerja otakku. Tapi kali ini aku memilih café yang baru buka di daerah bogor. Sangat jauh dari rumahku, sekitar 2 jam perjalanan via tol.

Ku baringkan tubuh lemahku diatas kasurku. Malam itu aku tidak memiliki tenaga untuk bebersih, tujuanku kali itu hanya tidur, tidur, dan tidurrrr yang panjang. “alhamdulillah tugasku sudah kutuntaskan semua hari ini dan sudah ku upload, tinggal nunggu pengumuman selanjutnya untuk wisuda” ucapku sambil ngedusel di bantal kesayanganku dalam keadaan mata sudah terpejam.

“ayo ke rumah sakit sekarang” ucap bunda dengan suara tangis yang cukup kencang.

Aku mendengar suara itu cukup jelas tapi aku tak sanggup untuk bangun karena rasa kantuk yang luar biasa.

-----

“anyeonghaseyooo” alarmku berbunyi dengan suara khas haechan

Aku terbangun dan melihat jam yang sudah menunjukan pukul 09.00 WIB. “ah untung lagi halangan jadi ga kelewat subuh” ucapku sambil bangun dari kasur.

“bundaaaaaa” teriakku sambil mengelilingi rumah

“kok kosong?” “ah iya semalem aku denger suara bunda mau ke rumah sakit” ucapku yang memang suka berbicara sendiri ketika sedang sendirian.

“tapi bunda kenapa? Apa bunda sakit lagi?” ucapku penuh ke khawatiran.

Bundaku akhir akhir ini sakit, dia juga memimpikan almarhum ayah sebanyak 2 kali, bahkan dia mimpi ada acara kumpul-kumpul keluarga di rumahku. Mendengar bunda cerita seperti itu aku, kakakku, dan adikku sangat khawatir. Terlebih lagi, bundaku sempat sudah mewasiatkan beberapa hal yang perlu dia sampaikan, termasuk lokasi pemakaman.

Pikiranku sudah buruk, aku khawatir dengan keadaan bunda. Aku tidak siap jika harus kehilangan bunda. Aku tidak siap harus kehilangan kedua orang tuaku dalam waktu yang berdekatan. “dunia sangat kejam kalau sampai hal itu menjadi kenyataan” ucapku dengan penuh usaha untuk menangkis pikiran buruk itu.

-----

Aku bergegas ke rumah sakit yang berada dekat dengan rumahku untuk menyusul bunda. Setelah sampai aku memarkirkan kendaraanku di dekat kamar mayat. Hari itu rumah sakit ramai pengunjung dan aku tak mendapat tempat parkir, jadi ku parkirkan paling ujung dekat dengan kamar mayat. Aku berjalan menyusuri lorong tempat parkir menuju ke lorong kamar mayat. Dari kejauhan aku melihat bunda dan adikku sedang menangis di depan pintu kamar mayat. “alhamdulillah bunda sehat, tapi kenapa bunda nangis di depan kamar mayat?” pikirku dalam hati.

“bunda sama adik kenapa nangis? Atau jangan-jangan kakak????” ku percepat langkah kakiku. Tapi tiba-tiba kakakku keluar dari kamar mayat dan langsung memeluk bunda. Mereka bertiga menangis sesegukan. Langkah kakiku langsung berhenti. “alhamdulillah kakak baik-baik aja”. Aku tersenyum dan melanjutkan berjalan kembali. Entah kenapa lorong itu terasa lebih panjang dari biasanya.

“ckrittt” pintu kamar mayat terbuka dan ada 2 orang suster yang mendorong kasur rumah sakit. “innalillahi, siapa ya itu” ucapku dalam hati. Bunda, kakak, serta adikku berdiri dan langsung memeluk mayat yang dibawa suster tersebut. Jantungku langsung berhenti “SIAPA YANG MENINGGAL YA ALLAH” aku lari sekencang-kencangnya untuk melihat jasad yang ada di kasur itu.

Dan dengan sangat terkejutnya aku ketika melihat jasad itu. Itu adalah aku. Ya aku dengan wujud yang berlumuran darah. Ternyata semalam yang pulang kerumah hanya arwahku, jasadku ada disini. Ternyata arwahku belum mengetahui kalau aku sudah pergi. Ternyata mimpi bunda benar, akan ada acara kumpul-kumpul keluarga di rumahku. "ah iya aku baru ingat semalam aku menabrak pembatas tol karena mengantuk".

 -Alamanda Winata, 2023-

-----

#cerpennyaalamanda

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coffee Shop

“Bunga matahari” Sal

Whats wrong with august?