Coffee Shop

Aku seorang budak korporat yang sedang melanjutkan S2 di salah satu kampus swasta jakarta. Semenjak pandemi kantorku menerapkan sistem hybrid. Kebetulan jobdesk ku tidak mengharuskan untuk selalu datang ke kantor, divisiku selalu jadi korban untuk stay at home jika ada yang positif covid. Sehingga aku lebih sering bekerja di cafe dekat kampusku. FYI aku semester akhir, sedang menyusun thesis sehingga sering bolak balik kampus untuk bimbingan. Dan hari ini, aku sehabis bimbingan sehingga aku WFC (work from cafe) di dekat kampus.

ting…

Bunyi notifikasi hpku memecahkan lamunanku. “oh ternyata dia upload story instagram” ucapku dalam hati.

Dia yang kumaksud adalah konten kreator. Konten dia seperti @dawaaam yang menceritakan beberapa kejadian yang relatable, memberikan sepatah duapatah kata untuk improve diri, dan minivlog (hanya pemandangan). Akun konten ini dimiliki oleh seorang pria yang tak pernah menunjukan muka, suara, identitas sedikitpun. Dia pernah bilang “kamu hanya cukup melihat karyaku, tidak dengan diriku”

ting…

Notifikasi kali ini adalah persetujuan airdrop dari orang yang bernama Errando. Aku penasaran jadi ku tekan ‘accepect’. 

Dia mengirim foto itu, ternyata dia percis duduk di belakangku, aku menoleh kebelakang “mas kayanya salah kirim” ucapku.

“Iya mba sorry, saya mau ngirim ke mac saya tapi salah pencet malah ke mba” ucapnya sambil tangannya disatukan seperti layaknya seorang yang sedang meminta maaf menggunakan emoticon 🙏🏽.

“Its okay mas” ucapku sambil sedikit tertawa.

“Oiya mba sekalian aja deh, kenalin saya Errando, pasti udah tau ya dari airdrop” ucapnya sambil berjalan kearahku.

“Haha iya mas, saya Zafina, panggil fina aja ya” ucapku dan membalas uluran tangannya.

“Mba saya boleh gabung duduk disini?”.

“Boleh mas, silahkan”.

Kami akhirnya berbincang cukup banyak, ada beberapa pembahasan yang nyambung. Dari isi pembahasan yang cukup singkat namun padat ini aku dapat menyimpulkan bahwa pria berjanggut tipis itu adalah mahasiswa S2 di kampusku dengan jurusan yang berbeda, aku manajemen dia akuntansi. Dia juga sedang menyusun thesis maka dari itu akhir-akhir ini dia juga sering ke cafe ini setelah bimbingan ataupun sebelum bimbingan. Dengan latar belakang kami yang sama, menjadikan kami lebih intens bertemu, walaupun pertemuan kami hanya di cafe ini.



2 bulan berlalu, thesisku dan errando sudah selesai, dan hubungan kami juga menjadi lebih intens. Kami sudah sering chat untuk bertukar kabar dan cerita. Bahkan beberapa kali kami membahas komitmen antara kami berdua untuk lanjut kehubungan yang lebih serius setelah wisuda.

ting…

“Aku sabtu ini sidang, mohon doanya ya fina, kamu sidang hari apa?” isi bubble chat dari Rando.

“Wah semangat ya Rando semoga lancar dan lelahmu selama ini menjadi lillah. Semoga ilmu kamu dapat bermanfaat untuk dirimu dan orang banyak, luruskan lagi niatmu untuk apa kamu melanjutkan S2, agar sidangmu dapat dipermudah sama Allah. Aamiin. Aku hari selasa depan, mohon doa dan affirmasi positifnya juga untuk aku hehe” balasku.

“Aamiin aamiin allahuma aamiin, terimakasih Fina. Hmm maaf ya Fina kali ini aku gamau kirim doa dan affirmasi langsung ke kamu, kali ini aku kirim langsung ke Allah ya” balasnya.

Ah Rando itu manusia cuek yang selalu pintar mengolah kata sehingga hatiku selalu luluh.



Sabtu, hari dimana Rando sidang, aku sudah siap membawakan beberapa bingkisan sebagai ucapan selamat. 

“Itu dia Rando” ucapku dalam hati sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Rando tak melihat kearahku, tapi dia melihat kearah wanita yang berjalan kearahnya. Oh tidak mereka berpelukan dan cipika cipiki. Aku tidak pernah melihat Rando seperti itu, setahuku Rando bukan lelaki yang mudah bersentuhan dengan wanita. Dia sangat menjaga jarak dengan lawan jenis.

Detik itu juga aku tersentak, tubuhku kaku, kakiku tak bisa digerakkan, perasaanku campur aduk. Namun lamunanku disadarkan dengan suara Rando yang memanggilku, dia berjalan kearahku dengan senyum manisnya. Ah sial kenapa masih ku sebut manis lelaki yang telah menyakitiku itu.

Jarak antara Rando dan aku semakin dekat, aku langsung bergegas lari meninggalkan Rando tanpa sepatah katapun. aku langsung kearah parkiran dan meninggalkan kampus.

Sepanjang jalan aku tak bisa menahan getir. Semua pikiran buruk melintas bersamaan dengan air mataku yang menetes.



Singkat cerita besok adalah hari dimana mahasiswa S2 akan melaksanakan wisuda. Ya! aku dan Rando pastinya akan diwisuda juga. Sejujurnya mentalku belum siap bertemu dengan Rando, karena hari dimana Rando sidang sampai menjelang wisuda aku tak pernah membalas chat ataupun mengangkat telpon Rando. Bahkan aku blok nomor Rando. Terlalu sakit untuk membahas dan mengingat kejadian di hari itu.

Keesokan harinya, hari wisuda, hari yang seharusnya bahagia menurutku. Karena di hari ini aku merayakan hasil perjuanganku selama 2 tahun, dan seharusnya menjadi titik hari dimana aku dan Rando dapat fokus mempersiapkan pernikahan kita.

Prosesi wisuda berjalan dengan lancar dan khidmat, sampai akhirnya MC memanggil seorang mahasiswa yang bernama “Errando Pratama, M.Ak”. Rando maju kedepan dengan gagahnya, ah itu ciri khas cara berjalannya Rando. “ternyata Rando terlihat baik baik saja” bibirku membentuk lengkungan tipis.



“Ayo nak foto dulu” ucap bundaku. Tanpa basa basi aku langsung mengikuti ucapan bunda.

“Assalamu’alaikum tante, om, fina” suara yang terdengar sumbernya dari belakang kami. Suara itu khas, suara yang berat tapi masih ada sisi lembutnya. Aku sudah dapat menebak siapa orang yang sudah berdiri dibelakang kami.

“Wa’alaikumssalam” ucapku.

“Siapa nak?” tanya ayah bundaku.

“Saya Rando om tante, saya temannya Fina yang sama-sama lagi wisuda” jawab Rando sambil mengulurkan tangan ke orang tuaku untuk salaman.

“Ayah bunda, fina kesana sebentar ya, mau ngobrol sama Rando”.

FYI, orang tuaku memang tidak kenal dengan Rando. Orang tuaku memakai prinsip ta’aruf kalau ingin menuju ke hubungan serius. Menurut mereka tidak ada hubungan sebelum menikah. Karena saat itu kami sedang fokus thesis akhirnya kami sepakat untuk mengenalkan ke orang tua setelah wisuda.

“Kamu ngapain sih nemuin aku lagi?” ucapku yang emosinya mulai meningkat.

“Loh kamu ini kenapa si? kenapa kamu tiba tiba ngejauhin aku, blok nomorku, dan tidak ada penjelasan sepatah katapun?” jawab Rando.

“Aku gamau bahas kejadian itu, ini hari bahagiaku, jangan rusak suasanaku” ucapku ketus dan sudah tak mau melihat matanya lagi.

Rando menyodorkan kertas, sepertinya itu kertas undangan. Ah iya benar ini undangan pernikahan. Sudah kuduga ini pasti undangan pernikahan Rando dengan perempuan itu.

“Apa ini?” ucapku sambil mengambil kertas tersebut.

“Gimana menurutmu?” ucap rando.

“Apa? Rando menanyakan pendapatku? maksudnya apa sih? aku ga habis fikir sama tingkah Rando. Maksudnya aku harus deskripsiin calon istrinya gitu?” pikiranku kala itu sangat berisik.

“Fina? gimana menurutmu? apa bagus?”.

“Iya bagus, selamat ya” ucapku ketus.

Bagaimana aku tak ketus? sehabis dia menyakitiku dia dengan mudahnya mengirimkan undangannya kepadaku dan menanyakan pendapatku? aku tak menyangka Rando sejahat itu.

“Fina kamu lihat dulu undangannya baik-baik, kamu baca dulu”.

Mendengar ucapan Rando, pikiran berisikku mulai senyap, sedari tadi aku memang belum melihat undangannya dengan jelas, karena aku ingin menghindari rasa sakit yang berlebih.


Er & Za


Errando Pratama, M.Ak

&

Zafina Ayunindya, M.M


Hah? apa? pikiran berisikku mulai menampakkan kehadirannya kembali. ini maksudnya apa? kenapa ada namaku? kenapa bukan perempuan itu? apa sih maksudnya Rando?.

“Jadi gimana? kamu suka ga sama konsep undangan kita? aku baru bisa ngasih konsep undangan, aku belum bisa mempersiapkan lebih jauh lagi. Gimana mau bergerak lebih jauh kalau kamu aja ngecut aku tanpa sebab”.

Mendengar omongan Rando air mataku menetes, kali ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata bahagia. Aku tak bisa mengungkapkan apa apa ke Rando. Aku hanya bisa menunduk.

“Jadi gimana? kita mau lanjut dengan komitmen kita?”.

“Sebentar” aku menyeka air mataku.

“Terus perempuan yang kamu peluk saat sidang itu siapa?” ucapku yang sudah mulai berani melihat mata Rando.

“Astaga, jadi kamu tiba-tiba kaya gini karena Ranti? Erranti itu kembaranku yang kuliah di Turki. aku pernah cerita kan kalo punya adik perempuan yang lagi kuliah di Turki?” jelas Rando.

“Iya tapi ku pikir adikmu masih kecil, dia masih kuliah S1 kan?” balasku.

“Nggak dong, kan dia kembaranku, otomatis dia juga lanjut kuliah S2” ucap Rando. Ah kala itu perasaanku campur aduk, senang, bahagia, tapi malu.

“Makanya jangan silent treatment dan cut orang gitu aja, cari tau dulu detailnya kaya gimana” ucap Rando dengan nada bercandanya tapi tetap terdengar tegas.



Beberapa bulan kemudian akhirnya aku dan Rando melaksakan prosesi pernikahan kami, tidak menyangka dari coffeshop dapat bertemu dengan seorang yang kini sedang menjabat tangan ayahku. 

Ternyata definisi jodoh yang beredar di sosial media itu benar, sejauh apapun jarak kamu dan jodohmu, kalau memang menyatu pasti dipersatukan. Dan walaupun kamu berusaha menghindar, pasti akan dipersatukan kembali.


To Be Continue...(?)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Bunga matahari” Sal

Whats wrong with august?